Senin, 06 April 2009

Kesempetan Untuk Anak Jalanan


Krisis moneter yang berlanjut dengan krisis ekonomi, kemudian meluas menjadi krisis multidimensi, mengakibatkan semakin banyak anak-anak usia sekolah terkena dampaknya


anak-anak usia sekolah terkena dampaknya. Banyak diantara mereka tidak bersekolah lagi, karena orang tua mereka terkena pemutusan hubungan kerja. Ada korelasi kuat semakin luasnya krisis ekonomi diikuti pula oleh makin banyaknya anak-anak tidak berada di ruang sekolah lagi. Pada jam-jam sekolah, mereka berhamburan di mana-mana, bahkan di jalanan. Tidak bisa tidak, angka anak jalanan meningkat tajam. Menurut hasil penelitian Badan Pelatihan dan Pengembangan Sosial Depsos (2003), penanganan anak jalanan di seluruh wilayah Indonesia belum memiliki pola dan pendekatan yang tepat dan efektif. Keberadaan Rumah Singgah misalnya, dinilai kurang efektif karena tidak menyentuh akar persoalan yaitu kemiskinan dalam keluarga “(Kompas, 26 Pebruari 2003). Hal ini bisa kita lihat dari pola asuh yang cenderung konsumtif. Tidak produktif karena yang ditangani adalah anak- anak, sementara keluarga mereka tidak diberdayakan.

Ditambah lagi dengan tekanan ekonomi yang mengakibatkan tidak berfungsinya keluarga, sehingga tidak ada pilihan lain. Anak pun lari ke jalanan. "Mereka masuk ke dunia kerja yang keras, atau di jalanan. Mulailah kehidupan keras untuk mereka. Itu akibat," tutur Aris Merdeka Sirait, seorang aktifis perlindungan anak “bukan penyebab. Pemerintah lebih berorientasi pada proyek. Rumah singgah, contohnya. Menurut Sirait, dia dibangun berdasarkan proyek semata, itupun mengandalkan bantuan dana luar negeri. "Begitu rumah itu selesai dibangun, ya sudah, kritik Sirait. Di sisi lain, penyebab yang melanggengkan keberadaan anak jalanan adalah uang pemberian kita. Itulah kesimpulan yang muncul dari pengalaman para pendamping anak jalanan di lapangan.

Menurut Hari, Koordinator Pengembangan Yayasan Sekar Mandiri yang bergerak di bidang anak-anak jalanan, “Sebenarnya ada tiga karakteristik anak jalanan. Pertama adalah anak-anak yang memang tinggal dan hidup di jalan. Lalu anak-anak yang masih memiliki rumah dan orang tua tetapi bekerja di jalanan. Dan yang ketiga adalah anak-anak yang rentan untuk menjadi anak jalanan karena faktor pergaulan dan lain-lain.” Masalahnya, jalanan bukanlah tempat yang aman, terutama bagi anak-anak dan remaja. Dengan mudah pengaruh negatif seperti narkoba, kriminalitas seperti merampok dan mencopet merasuk dalam perilaku anak-anak jalanan. Belum lagi banyak pelecehan seksual yang dialami anak-anak jalanan. Sebagai gambaran, dalam sehari anak jalanan bisa mendapatkan sekitar duapuluh sampai empat puluh ribu perak. Kalau masih punya orangtua, uang itu bisa diserahin ke mereka. Tapi dalam banyak kasus, uang itu disetorin ke koordinator yang mencari keuntungan dari kesusahan anak-anak jalanan itu. Beberapa anak mempergunakan uang itu untuk nyambung hidup, selain untuk biaya sekolah. Namun kebanyakan memakainya untuk main judi, mabok, ngelem, bahkan untuk beli narkoba.

Ada beberapa usaha untuk membantu mereka keluar dari keidupan jalanan. Tapi usaha itu terhalang karena itu tadi : Uang yang gampang didapat lewat ngemis. Beberapa anak jalanan yang dibina di rumah singgah dengan diberi bimbingan pendidikan, ketrampilan dan pemberian kesempatan kerja. Ironisnya, mereka hanya bertahan beberapa bulan lalu kembali ke jalan.

Beberapa anak yang disekolahkan dan ditanggung biaya hidupnya juga balik lagi ke jalanan. Waktu ditanya, jawabannya adalah karena memang lebih enak dan gampang mendapatkan uang di jalanan. Daripada kerja atau, apalagi, kembali sekolah. Kesimpulannya, uang yang kita berikan ke mereka berdampak mengerikan bagi nasib si anak jalanan. Secara tidak langsung dengan uang itu kita sudah menginvestasikan kemalasan, kebodohan, peningkatan kriminalitas, sampai masa depan suram bagi anak-anak yang dikasih uang itu. Kita perlu sebuah kesadaran baru untuk tidak memberi uang secara langsung sama anak jalanan. Tapi memberi mereka kesempetan. Ada beberapa pilihan untuk kesempatan yang dibutuhkan anak jalanan: Misalnya pendampingan. Anak jalanan ngerasa bahwa mereka adalah mahluk yang tersisih dan nggak dicintai. Maka ketimbang sekedar memberi uang, kita lebih dibutuhkan untuk mengembalikan kepercayaan diri mereka. Uang kita ganti dengan waktu yang kita sediakan untuk mendampingi mereka. Pilihan kedua, kita bisa membantu mereka dalam pendampingan bimbingan belajar, atau memberi kesempatan mereka untuk sekolah lagi dengan beasiswa, atau bimbingan untuk mengikutsertakannya dalam ujian persamaan untuk anak yang sudah melewati batas usia sekolah. Uang yang akan kita berikan ke mereka sebaiknya di”konversi” menjadi beasiswa.

Huh, bagaimana pendapat anda ?
di ambil dari .depsos.go.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis saran anda ! Terima Kasih

UDC_2009 pussiiiiiiiiiiing, he2, cpd

Foto saya
Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
Siapa pun ello boleh baca n nulis koment ke blog ini, caranya tunggu dulu ya.....